Vera Farah Bararah - detikHealth
Jakarta, Jika selalu berpikiran positif, maka setiap orang ingin hidup dengan usia panjang dan memiliki tubuh yang sehat. Tapi tak sedikit orang yang justru menjerumuskan dirinya sendiri untuk mati muda dengan melakukan kebiasaan yang buruk.
Sebagian besar orang sudah mengetahui bahwa hal-hal buruk yang dilakukannya bisa memicu kondisi kesehatan yang parah dan berujung pada kematian. Namun, meski demikian tetap saja banyak orang yang masih melakukannya.
Diketahui ada beberapa kebiasaan buruk yang dapat mengurangi harapan seseorang untuk hidup atau memicu terjadinya kematian dini, yaitu merokok terutama jika sudah dimulai sejak usia dini, mengonsumsi minuman keras, kurang melakukan aktivitas fisik setidaknya kurang dari dua jam dalam seminggu dan memiliki pola makan yang buruk yaitu sedikit mengonsumsi sayur dan buah tapi banyak mengonsumsi lemak atau gula.
Para peneliti dari Norwegia menemukan bahwa orang yang memiliki perilaku-perilaku fatal tersebut memungkinkan tiga kali lipat meninggal akibat penyakit jantung atau kanker.
"Pola hidup seperti itu bisa meningkatkan risiko kematian empat kali lipat oleh berbagai sebab dan bisa membuat seseorang terlihat 12 tahun lebih tua dibandingkan usianya," ujar Dr Elisabeth Kvaavik, dari University of Oslo, seperti dikutip dari LATimes, Senin (10/5/2010).
Selain itu pola hidup yang tidak sehat menyebabkan seseorang memiliki kadar kolesterol tinggi, tekanan darah tinggi, diabetes dan berbagai kondisi kesehatan lain yang dapat memicu penyakit pembuluh darah.
Kebiasaan buruk yang terjadi terus menerus dapat menghancurkan kehidupan seseorang, yaitu dapat membuat ia menjadi tidak sehat, kehilangan banyak uang serta menyebabkan kematian di usia muda.
Untuk mencegah hal tersebut, harus ada kesadaran dari diri orang tersebut untuk mau mengubah pola hidupnya menjadi lebih baik.
Seperti dikutip dari eHow, Senin (10/5/2010) ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menghentikan kebiasaan buruk ini, yaitu:
1. Mencari tahu hal apa yang membuat Anda menikmati kebiasaan buruk tersebut dan memperhatikan mengapa sangat memanjakan kebiasaan buruk ini. Setelah diketahui penyebabnya, cobalah untuk memikirkan ulang hal tersebut dan melakukan perubahan.
2. Konsisten dengan upaya yang dilakukan untuk mengubah kebiasaan buruk. Jika memiliki keinginan yang tulus untuk berubah, maka cobalah melakukan perubahan tersebut setiap harinya.
3. Mempertahankah perubahan kebiasaan ini selama 3 minggu. Sebuah studi yang dilakukan beberapa tahun terakhir menunjukkan suatu kebiasaan bisa mendarah daging jika sudah dilakukan sekitar 3 minggu. Sehingga selama waktu tersebut lakukan modifikasi untuk mempertahankannya.
4. Cobalah untuk memiliki pemikiran bahwa apa yang dilakukan saat ini akan jauh lebih positif dan menguntungkanbagi diri sendiri dan juga orang lain.
5. Mendapat dukungan dari orang-orang disekitar saat membutuhkan. Sebisa mungkin menjauhi hal-hal yang bisa memicu kembalinya melakukan kebiasaan buruk.
Untuk menghindari kematian di usia muda akibat gaya hidup tak sehat, sebaiknya hindari segala kebiasaan buruk yang bisa meningkatkan risiko kematian akibat berbagai penyakit. Mulailah mengubah pola hidup menjadi lebih sehat.
Wednesday, May 12, 2010
10 Cara Sederhana Hindari Sakit
AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Jakarta, Cuaca ekstrem dan tidak menentu seperti sekarang ini bisa membuat sistem pertahanan tubuh melemah. Dengan menjaga kebersihan, olahraga dan gizi yang cukup maka risiko tertular penyakit bisa ditekan.
Sedapat mungkin menghindari sakit adalah pilihan yang bijak untuk saat ini mengingat ongkos berobat tidak murah. Caranya sangat sederhana, tidak butuh banyak biaya serta bisa dilakukan oleh siapa saja.
Berikut ini adalah 10 tips agar tidak tertular penyakit, dikutip dari Askmen, Rabu (12/5/2010).
1. Istirahat yang cukup
Kurang tidur sering dikaitkan dengan berbagai masalah kesehatan fisik dan mental, termasuk berkurangnya sistem imun tubuh. Meski tidak ada penjelasan yang pasti tentang kaitannya dengan sistem imun, namun bisa dipastikan orang yang kurang tidur lebih mudah terserang penyakit. Karena itu jika punya keluhan kesehatan yang tidak jelas penyebabnya, cobalah perbaiki pola tidur.
2. Bersihkan permukaan seluruh perabot
Meskipun virus lebih banyak menular secara langsung dari orang ke orang, bukan tidak mungkin kontak tidak langsung melalui berbagai perabotan juga bisa menularkannya. Permukaan meja, keran air, gagang telepon dan pegangan pintu harus sering-sering dibersihkan karena sering bersentuhan dengan tangan. Beberapa virus dan kuman penyakit bisa bertahan hidup di sana selama beberapa jam, bahkan beberapa hari.
3. Hindari 'party'' saat musim penyakit
Bukan party namanya jika tidak ada alkohol, rokok dan mungkin obat-obat stimulansia. Bukan party juga namanya jika tidak bergadang sampai pagi. Padahal semuanya itu dapat melemahkan sistem imun, sehingga tubuh mudah terserang penyakit. Jika sesekali ingin ikut party tanpa ada risiko tertular penyakit, pastikan tidak ada yang sedang flu di tempat tersebut.
4. Jangan berbagi-pakai barang pribadi
Ketika masih kecil, berbagi-pakai barang pribadi seperti gelas dan piring dengan sesama teman mempunyai nilai-nilai dan kebahagiaan tersendiri. Sekarang, singkirkan jauh-jauh pola pikir seperti anak kecil itu dan bersikaplah sedikit egois untuk barang-barang yang bersentuhan dengan mulut. Sikat gigi, rokok, makanan, dan minuman mudah menularkan kuman penyakit jika digunakan bersama-sama.
5. Cukupi kebutuhan cairan
Bukan hanya saat sakit, mengonsumsi air banyak-banyak juga perlu dilakukan saat sehat untuk mencegah sakit. Lebih dari 60 persen tubuh manusia terdiri dari air yang fungsinya antara lain mengantarkan nutrisi ke sel sekaligus melarutkan racun-racun dalam tubuh.
6. Makanlah sayur dan buah-buahan yang berwarna warni
Tanpa perlu disadari, setiap saat tubuh selalu memberikan perlawanan terhadap infeksi berbagai virus dan kuman penyakit. Agar fungsi sistem imun tetap terjaga, berikan cukup nutrisi berupa vitamin dan mineral. Sayuran dan buah-buahan merupakan sumber nutrisi yang cukup lengkap. Semakin gelap dan berwarna-warni, umumnya kandungan nutrisinya semakin banyak.
7. Berolahraga
Tak sekedar membuat tubuh merasa segar bugar, berbagai penelitian telah membuktikan secara ilmiah bahwa olahraga seringan apapun asalkan dilakukan secara rutin dapat memperbaiki sistem imun. Belum diketahui pasti bagaimana mekanismenya, namun diduga olahraga secara rutin mencegah terjadinya inflamasi molekul dalam sel yang menyebabkan rusaknya sistem imun.
8. Jauhi orang sakit
Ini adalah tips paling sederhana yang tidak butuh banyak penjelasan. Sebagian besar virus flu menular melalui kontak langsung dari orang ke orang sehingga cukup masuk akal jika menghindari orang sakit flu dapat mencegah penularannya. Jika mendengar ada rekan kerja pilek atau bersin-bersin, kembalilah segera ke meja kerja dan bersihkan tangan sesering mungkin.
9. Jangan sembarangan menyentuh muka
Muka atau wajah mempunyai begitu banyak pintu masuk bagi kuman penyakit. Tidak hanya melalui hidung atau mulut, kuman bahkan bisa masuk melalui celah-celah yang tak terduga misalnya mata. Untuk mengurangi risiko masuknya kuman, jangan menjilat tangan maupun memakainyanya untuk menggosok hidung dan mata sekalipun gatal.
10. Jaga kebersihan tangan
Anjuran untuk mencuci tangan bisa ditemui di mana saja, karena memang efektif menekan risiko penularan penyakit. Kuman ada di mana-mana, dan terbawa ketika tangan menyentuh sesuatu. Karena itu sebelum menyentuh wajah dan memberi kesempatan kepada para kuman untuk berpesta, cucilah tangan dengan sabun atau minimal air yang mengalir.
Jakarta, Cuaca ekstrem dan tidak menentu seperti sekarang ini bisa membuat sistem pertahanan tubuh melemah. Dengan menjaga kebersihan, olahraga dan gizi yang cukup maka risiko tertular penyakit bisa ditekan.
Sedapat mungkin menghindari sakit adalah pilihan yang bijak untuk saat ini mengingat ongkos berobat tidak murah. Caranya sangat sederhana, tidak butuh banyak biaya serta bisa dilakukan oleh siapa saja.
Berikut ini adalah 10 tips agar tidak tertular penyakit, dikutip dari Askmen, Rabu (12/5/2010).
1. Istirahat yang cukup
Kurang tidur sering dikaitkan dengan berbagai masalah kesehatan fisik dan mental, termasuk berkurangnya sistem imun tubuh. Meski tidak ada penjelasan yang pasti tentang kaitannya dengan sistem imun, namun bisa dipastikan orang yang kurang tidur lebih mudah terserang penyakit. Karena itu jika punya keluhan kesehatan yang tidak jelas penyebabnya, cobalah perbaiki pola tidur.
2. Bersihkan permukaan seluruh perabot
Meskipun virus lebih banyak menular secara langsung dari orang ke orang, bukan tidak mungkin kontak tidak langsung melalui berbagai perabotan juga bisa menularkannya. Permukaan meja, keran air, gagang telepon dan pegangan pintu harus sering-sering dibersihkan karena sering bersentuhan dengan tangan. Beberapa virus dan kuman penyakit bisa bertahan hidup di sana selama beberapa jam, bahkan beberapa hari.
3. Hindari 'party'' saat musim penyakit
Bukan party namanya jika tidak ada alkohol, rokok dan mungkin obat-obat stimulansia. Bukan party juga namanya jika tidak bergadang sampai pagi. Padahal semuanya itu dapat melemahkan sistem imun, sehingga tubuh mudah terserang penyakit. Jika sesekali ingin ikut party tanpa ada risiko tertular penyakit, pastikan tidak ada yang sedang flu di tempat tersebut.
4. Jangan berbagi-pakai barang pribadi
Ketika masih kecil, berbagi-pakai barang pribadi seperti gelas dan piring dengan sesama teman mempunyai nilai-nilai dan kebahagiaan tersendiri. Sekarang, singkirkan jauh-jauh pola pikir seperti anak kecil itu dan bersikaplah sedikit egois untuk barang-barang yang bersentuhan dengan mulut. Sikat gigi, rokok, makanan, dan minuman mudah menularkan kuman penyakit jika digunakan bersama-sama.
5. Cukupi kebutuhan cairan
Bukan hanya saat sakit, mengonsumsi air banyak-banyak juga perlu dilakukan saat sehat untuk mencegah sakit. Lebih dari 60 persen tubuh manusia terdiri dari air yang fungsinya antara lain mengantarkan nutrisi ke sel sekaligus melarutkan racun-racun dalam tubuh.
6. Makanlah sayur dan buah-buahan yang berwarna warni
Tanpa perlu disadari, setiap saat tubuh selalu memberikan perlawanan terhadap infeksi berbagai virus dan kuman penyakit. Agar fungsi sistem imun tetap terjaga, berikan cukup nutrisi berupa vitamin dan mineral. Sayuran dan buah-buahan merupakan sumber nutrisi yang cukup lengkap. Semakin gelap dan berwarna-warni, umumnya kandungan nutrisinya semakin banyak.
7. Berolahraga
Tak sekedar membuat tubuh merasa segar bugar, berbagai penelitian telah membuktikan secara ilmiah bahwa olahraga seringan apapun asalkan dilakukan secara rutin dapat memperbaiki sistem imun. Belum diketahui pasti bagaimana mekanismenya, namun diduga olahraga secara rutin mencegah terjadinya inflamasi molekul dalam sel yang menyebabkan rusaknya sistem imun.
8. Jauhi orang sakit
Ini adalah tips paling sederhana yang tidak butuh banyak penjelasan. Sebagian besar virus flu menular melalui kontak langsung dari orang ke orang sehingga cukup masuk akal jika menghindari orang sakit flu dapat mencegah penularannya. Jika mendengar ada rekan kerja pilek atau bersin-bersin, kembalilah segera ke meja kerja dan bersihkan tangan sesering mungkin.
9. Jangan sembarangan menyentuh muka
Muka atau wajah mempunyai begitu banyak pintu masuk bagi kuman penyakit. Tidak hanya melalui hidung atau mulut, kuman bahkan bisa masuk melalui celah-celah yang tak terduga misalnya mata. Untuk mengurangi risiko masuknya kuman, jangan menjilat tangan maupun memakainyanya untuk menggosok hidung dan mata sekalipun gatal.
10. Jaga kebersihan tangan
Anjuran untuk mencuci tangan bisa ditemui di mana saja, karena memang efektif menekan risiko penularan penyakit. Kuman ada di mana-mana, dan terbawa ketika tangan menyentuh sesuatu. Karena itu sebelum menyentuh wajah dan memberi kesempatan kepada para kuman untuk berpesta, cucilah tangan dengan sabun atau minimal air yang mengalir.
Plus Minus Suplemen Kolagen
Vera Farah Bararah - detikHealth
Jakarta, Suplemen kolagen bagi perempuan mungkin sudah tidak asing lagi karena dipercaya bisa mencegah proses penuaan. Apa saja keuntungan dan efek samping dari suplemen kolagen?
Secara alami tubuh manusia akan memproduksi kolagen dalam jumlah yang memadai. Tapi seiring bertambahnya usia seseorang, maka produksi kolagen akan menurun.
Akibatnya tanda-tanda proses penuaan akan mulai terlihat seperti keriput, kulit mengendur, kuku yang semakin rapuh dan nyeri pada sendi. Untuk mencegah proses tersebut, maka banyak orang yang mempertimbangkan untuk mengonsumsi suplemen kolagen.
Seperti dikutip dari Livestrong, Rabu (12/5/2010) kolagen adalah bahan protein alami di dalam tubuh yang dapat ditemukan pada tulang, kulit dan jaringan ikat. Sedangkan kolagen sintetik yang terdapat dalam suplemen biasanya diambil dari kolagen hewan seperti sapi.
Suplemen yang digunakan untuk mencegah keriput biasanya digunakan dengan menyuntikkan zat tersebut secara langsung ke daerah wajah sehingga akan terlihat lebih halus.
Suplemen ini juga bisa digunakan untuk mengobati kondisi lain seperti inkontinensia (orang yang tidak bisa menahan pipis) dan rheumatoid arthritis.
Suplemen kolagen yang biasa tersedia di pasaran bisa dalam bentuk pil, krim atau suntikan. Selain itu setiap suplemen kolagen biasanya mengandung jenis kolagen tertentu dengan fungsi yang berbeda-beda.
Meski suplemen ini ada dipasaran, bukan berarti tidak memiliki efek samping. Karenanya ketahui apa saja keuntungan dan efek samping dari penggunaan suplemen kolagen ini, yaitu:
Keuntungan
1. Bagi orang yang memiliki masalah tulang atau arthritis umumnya mengambil suplemen yang mengandung kolegan II, karena merupakan komponen utama dari tulang rawan hialin sehingga dapat mengurangi rasa nyeri.
2. Jika digunakan untuk meremajakan kulit cenderung menggunakan kolagen I dan III.
3. Suplemen kolagen untuk sendi dapat membantu meningkatkan pergerakan dari sendi, mengurangi peradangan, memperkuat jaringan ikat dan dipercaya bisa mempercepat proses penyembuhan.
4. Memperkuat pembuluh darah dan meningkatkan sirkulasi sehingga dapat membantu mengurangi risiko penyakit jantung.
Efek samping
1. Karena kolagennya berasal dari hewan tertentu seperti sapi atau ayam, maka pastikan terlebih dahulu untuk tidak alergi terhadap komponen tersebut.
2. Suntikan kolagen kadang menimbulkan reaksi alergi seperti mual, sakit kepala dan muntah.
3. Suntikan kolagen bisa memiliki beberapa efek samping terutama bagi orang yang sangat sensitif, seperti memar atau infeksi.
4. Orang dengan kelainan autoimun bisa menyebabkan tubuh bereaksi terhadap zat asing dari suplemen kolagen yang masuk ke dalam tubuh, sehingga wajah tampak mengembung.
Sebelum menggunakan suplemen kolagen, sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu untuk mengetahui jumlah suplemen yang aman dikonsumsi serta kenali kondisi diri sendiri terutama dari berbagai macam alergen.
Jakarta, Suplemen kolagen bagi perempuan mungkin sudah tidak asing lagi karena dipercaya bisa mencegah proses penuaan. Apa saja keuntungan dan efek samping dari suplemen kolagen?
Secara alami tubuh manusia akan memproduksi kolagen dalam jumlah yang memadai. Tapi seiring bertambahnya usia seseorang, maka produksi kolagen akan menurun.
Akibatnya tanda-tanda proses penuaan akan mulai terlihat seperti keriput, kulit mengendur, kuku yang semakin rapuh dan nyeri pada sendi. Untuk mencegah proses tersebut, maka banyak orang yang mempertimbangkan untuk mengonsumsi suplemen kolagen.
Seperti dikutip dari Livestrong, Rabu (12/5/2010) kolagen adalah bahan protein alami di dalam tubuh yang dapat ditemukan pada tulang, kulit dan jaringan ikat. Sedangkan kolagen sintetik yang terdapat dalam suplemen biasanya diambil dari kolagen hewan seperti sapi.
Suplemen yang digunakan untuk mencegah keriput biasanya digunakan dengan menyuntikkan zat tersebut secara langsung ke daerah wajah sehingga akan terlihat lebih halus.
Suplemen ini juga bisa digunakan untuk mengobati kondisi lain seperti inkontinensia (orang yang tidak bisa menahan pipis) dan rheumatoid arthritis.
Suplemen kolagen yang biasa tersedia di pasaran bisa dalam bentuk pil, krim atau suntikan. Selain itu setiap suplemen kolagen biasanya mengandung jenis kolagen tertentu dengan fungsi yang berbeda-beda.
Meski suplemen ini ada dipasaran, bukan berarti tidak memiliki efek samping. Karenanya ketahui apa saja keuntungan dan efek samping dari penggunaan suplemen kolagen ini, yaitu:
Keuntungan
1. Bagi orang yang memiliki masalah tulang atau arthritis umumnya mengambil suplemen yang mengandung kolegan II, karena merupakan komponen utama dari tulang rawan hialin sehingga dapat mengurangi rasa nyeri.
2. Jika digunakan untuk meremajakan kulit cenderung menggunakan kolagen I dan III.
3. Suplemen kolagen untuk sendi dapat membantu meningkatkan pergerakan dari sendi, mengurangi peradangan, memperkuat jaringan ikat dan dipercaya bisa mempercepat proses penyembuhan.
4. Memperkuat pembuluh darah dan meningkatkan sirkulasi sehingga dapat membantu mengurangi risiko penyakit jantung.
Efek samping
1. Karena kolagennya berasal dari hewan tertentu seperti sapi atau ayam, maka pastikan terlebih dahulu untuk tidak alergi terhadap komponen tersebut.
2. Suntikan kolagen kadang menimbulkan reaksi alergi seperti mual, sakit kepala dan muntah.
3. Suntikan kolagen bisa memiliki beberapa efek samping terutama bagi orang yang sangat sensitif, seperti memar atau infeksi.
4. Orang dengan kelainan autoimun bisa menyebabkan tubuh bereaksi terhadap zat asing dari suplemen kolagen yang masuk ke dalam tubuh, sehingga wajah tampak mengembung.
Sebelum menggunakan suplemen kolagen, sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu untuk mengetahui jumlah suplemen yang aman dikonsumsi serta kenali kondisi diri sendiri terutama dari berbagai macam alergen.
Musik Mozart Tidak Meningkatkan Kecerdasan
Vera Farah Bararah - detikHealth
Jakarta, Selama ini masyarakat percaya mendengarkan musik Mozart bisa meningkatkan intelegensia. Tapi ilmuwan membantah hal tersebut dan mengungkapkan bahwa musik Mozart tidak meningkatkan kecerdasan.
Ilmuwan menyimpulkan hasil tersebut setelah melakukan penelitian selama lebih dari 15 tahun. Temuan ini tentu saja menjadi 'pukulan' bagi orang-orang yang mempercayai 'Mozart-effect'.
Kejadian 'Mozart-effect' pertama kali diusulkan dalam sebuah studi ilmiah yang telah dipublikasikan pada tahun 1993 dalam jurnal Science.
Dalam penelitian 'Mozart-effect' tersebut menunjukkan bahwa remaja yang mendengarkan Mozart Sonata 1781 untuk dua piano di D mayor, dapat melakukan tes penalaran dengan baik dibandingkan remaja lain yang berada di ruangan hening atau sepi.
Temuan 'Mozart-effect' ini dilakukan oleh kelompok studi di University of California dengan hanya melibatkan 36 siswa.
Sejak itu masyarakat Amerika mulai mempercayai efek dari Mozart dan memutar musik klasik untuk anak-anaknya, bahkan memberikan CD klasik gratis bagi para orangtua.
Namun, banyak yang menyangka bahwa efek tersebut adalah sebuah mitos dari hasil penelitian. Karenanya tim dari Vienna University's Faculty of Psychology menganalisis semua penelitian yang dilakukan sejak tahun 1993 dan berusaha untuk mereproduksi efek Mozart. Ternyata didapatkan tim peneliti tidak menemukan bukti adanya fenomena efek Mozart seperti itu.
"Mereka yang mendengarkan musik baik itu Mozart atau sesuatu yang lain seperti Bach, Pearl Jam, tentunya akan memiliki hasil yang lebih baik daripada kelompok yang hening tanpa musik," ujar Jakob Pietsching, ketua penelitian, seperti dikutip dari Telegraph, Rabu (12/5/2010).
Pietsching menuturkan hampir semua orang tahu bahwa masyarakat akan melakukan tes atau pekerjaan dengan lebih baik jika mereka mendapatkan stimulus atau sesuatu yang dapat membatu stimulasinya. Hal inilah yang mungkin selama ini dipercaya oleh masyarakat.
"Meski demikian saya menyarankan semua orang untuk mendengarkan Mozart, tapi bukan untuk meningkatkan kemampuan kognitif seperti yang selama ini diharapkan oleh masyarakat," ujar Pietsching.
Jakarta, Selama ini masyarakat percaya mendengarkan musik Mozart bisa meningkatkan intelegensia. Tapi ilmuwan membantah hal tersebut dan mengungkapkan bahwa musik Mozart tidak meningkatkan kecerdasan.
Ilmuwan menyimpulkan hasil tersebut setelah melakukan penelitian selama lebih dari 15 tahun. Temuan ini tentu saja menjadi 'pukulan' bagi orang-orang yang mempercayai 'Mozart-effect'.
Kejadian 'Mozart-effect' pertama kali diusulkan dalam sebuah studi ilmiah yang telah dipublikasikan pada tahun 1993 dalam jurnal Science.
Dalam penelitian 'Mozart-effect' tersebut menunjukkan bahwa remaja yang mendengarkan Mozart Sonata 1781 untuk dua piano di D mayor, dapat melakukan tes penalaran dengan baik dibandingkan remaja lain yang berada di ruangan hening atau sepi.
Temuan 'Mozart-effect' ini dilakukan oleh kelompok studi di University of California dengan hanya melibatkan 36 siswa.
Sejak itu masyarakat Amerika mulai mempercayai efek dari Mozart dan memutar musik klasik untuk anak-anaknya, bahkan memberikan CD klasik gratis bagi para orangtua.
Namun, banyak yang menyangka bahwa efek tersebut adalah sebuah mitos dari hasil penelitian. Karenanya tim dari Vienna University's Faculty of Psychology menganalisis semua penelitian yang dilakukan sejak tahun 1993 dan berusaha untuk mereproduksi efek Mozart. Ternyata didapatkan tim peneliti tidak menemukan bukti adanya fenomena efek Mozart seperti itu.
"Mereka yang mendengarkan musik baik itu Mozart atau sesuatu yang lain seperti Bach, Pearl Jam, tentunya akan memiliki hasil yang lebih baik daripada kelompok yang hening tanpa musik," ujar Jakob Pietsching, ketua penelitian, seperti dikutip dari Telegraph, Rabu (12/5/2010).
Pietsching menuturkan hampir semua orang tahu bahwa masyarakat akan melakukan tes atau pekerjaan dengan lebih baik jika mereka mendapatkan stimulus atau sesuatu yang dapat membatu stimulasinya. Hal inilah yang mungkin selama ini dipercaya oleh masyarakat.
"Meski demikian saya menyarankan semua orang untuk mendengarkan Mozart, tapi bukan untuk meningkatkan kemampuan kognitif seperti yang selama ini diharapkan oleh masyarakat," ujar Pietsching.
Suara Ibu di Telepon Sama Seperti Pelukan Bagi si Kecil
Vera Farah Bararah - detikHealth
Jakarta, Ibu yang bekerja terkadang tidak bisa menghabiskan banyak waktu di rumah bersama si kecil terutama saat ia merasa stres. Tapi ternyata suara ibu di telepon bisa menenangkan anak layaknya sebuah pelukan.
Sebuah penelitian menunjukkan bahwa para ibu yang menelepon anaknya saat sedang bekerja bisa membuat si kecil menjadi rileks atau santai seperti layaknya menerima sebuah pelukan dari sang ibu.
Peneliti Amerika Serikat melibatkan lebih dari 60 anak perempuan yang memiliki situasi penuh tekanan. Anak-anak ini dimonitor respons hormonalnya sesudah mereka ditelepon atau dipeluk.
Ternyata diketahui bahwa suara ibu yang dihasilkan melalui telepon bisa memberikan hormon oksitosin dalam jumlah yang sama dengan jumlah hormon yang dikeluarkan dari kenyamanan fisik.
Hasil penelitian ini sudah diterbitkan dalam jurnal Proceedings of the Royal Society B.
Dalam penelitian ini anak perempuan yang berusia 7-12 tahun diminta untuk berpidato tanpa adanya persiapan terlebih dahulu di depan sejumlah orang. Pengalaman ini tentunya akan meningkatkan detak jantung dan membuat hormon stres kortisol melonjak.
Lalu anak perempuan ini dibagi menjadi tiga kelompok. Satu kelompok diberikan kenyamanan fisik seperti pelukan atau merangkul bahu oleh ibunya, kelompok kedua diberikan suara ibu melalui telepon sedangkan kelompok ketiga diberikan film yang netral secara emosional.
Ternyata hasil penelitian menunjukkan kadar hormon oksitosin,-- yaitu hormon yang diyakini sangat terkait dengan ikatan sosial dan salah satu hormon yang dapat mengurangi efek dari kortisol--, meningkat pada dua kelompok pertama dengan jumlah yang sama. Tapi hal ini tidak terjadi pada kelompok ketiga yang hanya diberikan suguhan film.
"Selama ini diyakini bahwa pelepasan oksitosin dalam konteks ikatan sosial memerlukan adanya kontak fisik. Tapi dari hasil ini diketahui bahwa suara seorang ibu bisa memiliki efek yang sama seperti pelukan, meskipun sang ibu tidak ada di sana," ujar Dr Leslie Seltzer yang memimpin penelitian dari University of Wisconsin-Madison, seperti dikutip dari BBCNews, Rabu (12/5/2010).
Karena itu bagi ibu yang sibuk bekerja, tak ada salahnya untuk menelepon si kecil setiap beberapa jam sekali untuk mengetahui kondisinya dan membuatnya merasa rileks atau nyaman karena mendengar suara sang ibu.
Jakarta, Ibu yang bekerja terkadang tidak bisa menghabiskan banyak waktu di rumah bersama si kecil terutama saat ia merasa stres. Tapi ternyata suara ibu di telepon bisa menenangkan anak layaknya sebuah pelukan.
Sebuah penelitian menunjukkan bahwa para ibu yang menelepon anaknya saat sedang bekerja bisa membuat si kecil menjadi rileks atau santai seperti layaknya menerima sebuah pelukan dari sang ibu.
Peneliti Amerika Serikat melibatkan lebih dari 60 anak perempuan yang memiliki situasi penuh tekanan. Anak-anak ini dimonitor respons hormonalnya sesudah mereka ditelepon atau dipeluk.
Ternyata diketahui bahwa suara ibu yang dihasilkan melalui telepon bisa memberikan hormon oksitosin dalam jumlah yang sama dengan jumlah hormon yang dikeluarkan dari kenyamanan fisik.
Hasil penelitian ini sudah diterbitkan dalam jurnal Proceedings of the Royal Society B.
Dalam penelitian ini anak perempuan yang berusia 7-12 tahun diminta untuk berpidato tanpa adanya persiapan terlebih dahulu di depan sejumlah orang. Pengalaman ini tentunya akan meningkatkan detak jantung dan membuat hormon stres kortisol melonjak.
Lalu anak perempuan ini dibagi menjadi tiga kelompok. Satu kelompok diberikan kenyamanan fisik seperti pelukan atau merangkul bahu oleh ibunya, kelompok kedua diberikan suara ibu melalui telepon sedangkan kelompok ketiga diberikan film yang netral secara emosional.
Ternyata hasil penelitian menunjukkan kadar hormon oksitosin,-- yaitu hormon yang diyakini sangat terkait dengan ikatan sosial dan salah satu hormon yang dapat mengurangi efek dari kortisol--, meningkat pada dua kelompok pertama dengan jumlah yang sama. Tapi hal ini tidak terjadi pada kelompok ketiga yang hanya diberikan suguhan film.
"Selama ini diyakini bahwa pelepasan oksitosin dalam konteks ikatan sosial memerlukan adanya kontak fisik. Tapi dari hasil ini diketahui bahwa suara seorang ibu bisa memiliki efek yang sama seperti pelukan, meskipun sang ibu tidak ada di sana," ujar Dr Leslie Seltzer yang memimpin penelitian dari University of Wisconsin-Madison, seperti dikutip dari BBCNews, Rabu (12/5/2010).
Karena itu bagi ibu yang sibuk bekerja, tak ada salahnya untuk menelepon si kecil setiap beberapa jam sekali untuk mengetahui kondisinya dan membuatnya merasa rileks atau nyaman karena mendengar suara sang ibu.
Subscribe to:
Posts (Atom)
